Selasa, 25 September 2012

segala kepalsuan ada di dunia kampus

Gedung-gedung kuliah tidak ubahnya gedung teater yang mementaskan cerita komedi. Andreas Harefa menyebutkan segala kepalsuan ada di dunia kampus, dosen palsu, mahasiswa palsu, pendidikan palsu, senyum palsu, gelar palsu dan ijazah palsu. Suasana yang serba intim antar dosen dan mahasiswa menjadi kabur, guru besar dan guru kecil yang mudah dihubungi dan gampang diajak bertukar pikiran sudah berlalu. hal ini sangat jauh berbeda seperti yang di di katakan Neil postman bahwa sekolah(perguruan tinggi)dalam pengertian yang terkandung dalam kata yang digunakan, adalah sebuah narasi besar yang memiliki kredibilitas, kompleksitas, kekuatan, dan hegemoni simbolik yang mampu mengatur dan mengarahkan orang-orang yang terproses di dalamnya.

Halaman-halaman kampus tidak lagi menjadi taman-taman yang indah dengan suasana yang tenang dan tentram, yang memungkinkan para mahasiswa serta dosen bercakap dan bergaul dengan santai. Hal ini semakin jelas terlihat ketika pendekatan pedagogi semakin mengakar di dunia kampus. Pendekatan pedagogi yang bermakna ilmu mengasuh anak yang diterapkan di dalam sistem pendidikan kampus hari ini, dalam perkembangannya para dosen, guru besar di tiap perguruan tinggi akan memperlakukan peserta didik seperti anak-anak. Mereka menuntut kepatuhan mutlak peserta didik atas semua mata kuliah yang mereka indoktrinasikan. Hasilnya, makin tinggi jenjang semester mahasiswa, maka akan semakin pragmatis, permisif, apatis sifatnya dan terfokus cakrawala optiknya pada bidang ilmu yang ditekuninya sampai tidak mengetahui kenyataan yang terdapat di dunia riil yang melingkunginya.

Perubahan, suasana kampus hari ini tidak ubahnya pusat perbelanjaan di kota besar atau bahkan tempat parkirnya mobil aparat keamanan yang akan" memperkosa" kebebasan berpendapat ketika kepentingannya di usid. Selain itu arena olahraga dalam kampus tidak lagi menjadi ciri khas mahasiswa dengan jiwa mudanya, tetapi sudah menjadi ‘ring tinju’ tempat memamerkan kekuatan otot, tempat berhamburannya batu-batu, kedatangan mahasiswa baru bukannya di sambut dengan penggodokan intelektual tapi dijadikan area penanaman doktrin-doktrin kejahilan abad ini. Semuanya jauh berbeda seperti apa yang dipikirkan sebelum memasuki dunia kampus, sudah terlampau materialistis, dan tidak memberikan ketenangan untuk belajar dan bertukar pikiran. Lagian kayaknya memang tidak ada suasana belajar tapi yang ada sekedar MENGHAFAL dan akan hilang dengan sendirinya beberapa menit sesudah ujian.

Akhh sudahlah

semuanya sudah bisa di tebak kemana ujung cerita dari dunia kampus hari ini, salah satu konsekuensi logis dari apa yang terjadi di dunia kampus hari ini adalah hanya akan melahirkan kaum terpelajar yang tingkah lakunya bertentangan dengan agama dan jauh dari realita yang dibutuhkan masyarakat, bersifat permissive, materialistis hedonostis, bersudut pandang monolitik, miskin solidaritas dan kepedulian terhadap sesama, bermental kacung dan kekanak-kanakan itulah ciri khas mahasiswa hari ini. (Romo Mangun Wijaya dengan ‘sinis’ mengatakan, “Lihat saja, mahasiswa itu sekeluarnya dari kampus hanya akan membodohi rakyat dengan modal kepintaran mereka.”).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar