Kampus sejatinya adalah sebuah narasi besar yang memiliki kredibilitas, kompleksitas, kekuatan, dan hegemoni simbolik yang mampu mengatur dan mengarahkan orang-orang yang terproses di dalamnya. tempat dimana aktor aktor intelektual ditelurkan dalam menghadapi tantangan di era globalisasi ini. Namun yang kita lihat hari ini kampus tidak lagi kondusif untuk menciptakan mahasiswa sesuai proyeksi yang di harapkan. Justru kampus hari ini cendrung melembagakan kepentigan penindas, kampus hanya menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah yang hanya bertugas menciptakan robot-robot intelektual yang siap di pekerjakan di perusahaan-perusahaan milik kapitalis barat. kampus di jadikan pabrik-pabrik buruh yang berpenampilan berdasi dan borjuis. Kampus tidak lagi serius memperhatikan peradaban sejati dan kepentingan desa yang jauh dari kata sejahtera.
Aktivitas dan kehidupan mahasiswa kemudian dikontrol oleh penguasa lewat kaki tangannya yakni pihak Rektorat dan Dosen Pengajar. Mahasiswa kemudian di dorong untuk melakukan kegiatan yang bersifat serimonial, eksklusif atau mengharumkan nama almamater bahkan watak militeristik yang digunakan ketika menghadapi mahasiswa, hal ini jelas terlihat dari sikap refresip birokrat yang di legalkan dalam bentuk aturan yang sering di pakai yaitu:
1. memperketat absensi kehadiran (kuantitas kehadiran sekitar 80%, jika tidak memenuhi standar demikian maka mahasiswa tersebut tidak dapat mengikuti ujian semester).
2. Merepresif nilai jika bertentangan atau berbeda pendapat dengan dosen dan birokrat kampus
3. Membuat perjanjian sepihak tanpa melakukan diskusi dengan mahasiswa
4. Merepresif mahasiswa yang kritis dengan metode pemanggilan orang tua/wali.
5. Menghilangkan demokratisasi ketika mahasiswa menuntut.
6. Rutinitas tugas (kawan-kawan mahasiswa MIPA yang paling merasakannya) yang membuat mahasiswa hampir tidak punya waktu untuk mempelajari bidang ilmu lainnya
7. Pemecatan atau Drop Out
Yang menjadi pertanyaan kita kemudian kenapa tidak banyak aktivitas atau gerakan mahasiswa yang gencar meneriakan PEMBODOHAN SISTEMATIS ini. Tentu hal ini menjadi tanda tanya besar di antara kita, apakah masih ada hari ini mahasiswa yang coba berpikir cerdas, kritis dan berani mengkoreksi sistem dan setiap dinamika kampus ataukah mahasiswa hari ini telah terbuaih hal hal yang bersifat serimonial dan ekslusif tersebut atau bahkan takut melawan PEMBODOHAN SISTEMATIS ini ????
Lantas ke mana lembaga kampus hari ini????
Alih-alih membentuk sebuah pola pembasisan dan kaderisasi lembaga-lembaga kampus hari inipun lebih sibuk berurusan dengan hal hal yang bersifat administratif yang hanya sebatas pelaksana kegiatan yang tinggal dilaksanakan atau disetujui oleh rektorat, lembaga hampir tidak punya nilai tawar dengan birokrat kampus, sehingga
"Perselingkuhan" kepentingan terjadi antara mahasiswa dengan pihak pengambil kebijakan, Dengan realita yang ada, maka mahasiswa secara tidak langsung, hampir tidak punya waktu untuk mengkaji berjuta persoalan yang ada diperguruan tinggi. Dan kita kemudian lupa menjawab mengapa pendidikan semakin mahal, tidak ilmiah dan jauh dari nilai demokratisasi? Sepertinya tujuan pendidikan tidak lagi melahirkan manusia-manusia yang utuh melainkan manusia-manusia setengah robot.
Lembaga kampus hari ini pun dengan eksklusifnya telah reorientasi dari hakikatnya sebagai lembaga kemahasiswaan yang mengabdi kepada kepentingan mahasiswa dan rakyat banyak. Dimana lembaga kampus sekarang ini hanya melahirkan mahasiswa-mahasiswa seperti berikut ini :
1. Intelektualis : golongan mahasiswa yang banyak mengkomsumsi teori tanpa adanya keperpihakan yang jelas terhadap rakyat.
2. Aktivisme : mahasiswa yang ikut ambil bagian untuk melawan rezim namun setelah status mahasiswanya berakhir ia kemudian menjadi penindas-penidas baru.
3. Sektarian : kelompok mahasiswa yang berjuang hanya untuk kepentingan kelompoknya dan merasa tidak usah mengajak lembaga-lembaga yang lainnya.
4. Feodal : Mahasiswa yang terlalu menagungkan senioritas dan merasa dirinya yang paling benar(anti demokrasi).
Yahhh mau tidak mau inilah kampus dengan dinamikanya.
jika Andreas Harefa mengatakan segala kepalsuan ada di dunia kampus
maka tidak akan salah kiranya jika saya mengatakan PEMBODOHAN SISTEMATIS ada di dunia kampus hari ini(ibarat pemerkosaan jika tidak mampu melawan nikmati saja)....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar