Hari ini Kami melihat manusia-manusia liar itu begitu bangga akan diri dan kursi jabatan yang mereka duduki di gedung mewah bernama DPR, Tidakkah mereka sadar dengan apa yang mereka embang dan pudak mereka, tidakkah mereka ingat amanah orang banyak yang mereka janjikan sewaktu mereka memohon kursi dewan yang terhormat itu. Mungkin saja agama langit sudah di anggap sepi dan di kesampingkan dan berbangga bangga penghuni gedung itu dengan perilaku syaitan.
Entah dimana kesadaran ruhani mereka yang dulu di asah untuk di pertajam di bangku-bangku sekolah, tidakkah mereka melihat dan mampu meniru lalat dan burung yang beterbangan. tidakkah mereka mampu mamaknai dari apa yang dilakukan sang burung itu(meskipun mereka mampu terbang tinggi namun mereka tidak pernah lupa untuk kembali ke sarangnya dan kembali ke anak-anaknya).
Masih segar dalam ingatan kami kemarin suaramu begitu keras memerahkan teliga kami dengan sejuta janji-janjimu, dan kamipun sapah engkau dengan harapan terselip di pundakmu. harapan yang dulunya begitu kami nanti untuk menyenangkan hati kami. Namun akhirnya kami sadar bahwa apa yang kau katakan waktu itu adalah sebuah klase yang mungkin akan terwujud, tapi kapan??
Tak sadarkah engkau bahwa lepuh telah kami kembalikan kepada api,??
Tak sadarkah engkau bahwa basah telah kami kembalikan kepada air,??
Lantas kepada siapa kami mengembalikan lapar kami???
Apakah kami akan mengembalikan lapar kami kepada lambung yang busung, atau kepada lidah yang menjilati piring piring kosong yang ada di dapur kami?? atau bahkan kepada tubuh kucing yang mengigil di sudut kamar yang tak bertuang????
sudahlah janjimu saja telah memberikan rasa kenyang semu yang akan kami nikmati sampai waktunya tiba. teriakanmu yang dulu kami banggakan sekarang hanyalah nista yang haram untuk kami tolak
Sekarang Tak ada yang bisa di banggakan dari apa yang kalian miliki hari ini.
tak kalah kehebatan telunjuk kalian mampu membalikan putihnya ubang.
Namun kalian tak pernah mampu mendustakan nikmat Tuhanmu.
kami lihat saku bajumu hanya terselip selembar catatan usang yang dulu kalian bacakan kepada kami.
kami lihat matahari yang tumbuh di mata kakimu tak mampu lagi mengarahkanmu menuju kesadaran rohanimu
kami lihat garis takdirmu tak hanya hitam namun gelap mungkin karna dalam setiap ucapanmu tak lagi mengeluarkan cahaya kebenaran.
Mungkin suatu hari kami akan bercerita kepada generasi berikutnya, tentang negeri para pendusta(yang telah menghilangkan ruh dan jiwa serta semangat dan nilai nilai kemanusiaannya.
Dan kini hanya tinggal dan bersemayam pada diri mereka Nas Nas(kebinatangan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar