Senin, 2012 Maret 19 01:05
Oleh Habibati Muhdhari
رُوِيَ عَن رَسولِ الله صلّي اللهُ عَليه وَ آلِه و سَلَّم قال:
مَنْ حَبَسَ عَنْ أخِيهِ الْمُسْلِمِ شَيْئاً مِنْ حَقِّهِ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَرَكَةَ الرِّزْقِ إِلَّا أنْ يَتُوبَ[*].
Diriwayatkan Rasulullah Saw bersabda: "Orang yang yang tidak memberikan milik saudara Muslimnya, maka Allah mengharamkan berkah rejekinya kecuali dia bertaubat."
Ayatullah Mojtaba Tehrani menjelaskan hadis itu dan mengatakan, "Meminta rejeki dari Allah Swt itu baik, bahkan ditekankan agar kita memohon dari-Nya. Jangan bingung! Rejeki ada di tangan-Nya. Mintalah dari-Nya. Akan tetapi ketahuilah bahwa jika kalian beranggapan bahwa banyaknya rejeki itu menguntungkan kalian, maka kalian keliru. Jumlah dan banyaknya rejeki tidak penting yang terpenting adalah; pertama, pemanfaatan rejeki sebaik-baiknya. Allah Swt telah membuka pintu rejeki-Nya untuk kalian dan melipatkan jumlahnya. Maka yang harus kalian lakukan adalah memanfaatkan sebaik-baiknya untuk dunia dan akhirat kalian, dan pasti yang terpenting adalah akhirat. Yang penting adalah sebesar apa kalian memanfaatkannya."
"Kedua, terkait urusan duniawi, bagaimana kalian memanfaatkannya, apakah kalian membuat kalian bahagia atau justru menyusahkan? Terkadang kita melupakan hal ini. Kita beranggapan bahwa pemanfaatan rejeki untuk masalah duniawi sama dengan lebih banyak makan dan kualitas yang lebih baik. Tidak! Masalahnya bukan demikian. Dalam riwayat kita mendengar istilah rejeki yang berkah. Rejeki yang kalian dapatkan harus berkah. Karena jika tidak, dengan perilaku kalian sendiri, akan muncul berbagai kesulitan yang akhirnya limpahan rejeki itu pun tidak berguna bagi kalian."
"Rasulullah Saw bersabda bahwa jika seseorang menolak memberikan hak saudara Muslimnya, maka dampaknya adalah Allah Swt akan mengharamkan keberkahan rejekinya. Benar bahwa Allah Swt tetap melimpahkan rejeki-Nya, akan tetapi untuk orang seperti itu rejekinya tidak berkah." (IRIB Indonesia/MZ)
[*]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar