Tepat 82 tahun yang lalu, Kongres Pemuda II yang dihadiri oleh sejumlah perwakilan pemuda dari berbagai wilayah nusantara menggemuruhkan eksistensi kebangsaan Indonesia. Sekilas, tak ada yang unik dari peristiwa tersebut, selain kelanjutan kisah heroik anak bangsa yang sedang bergelut dalam masa revolusi.
Sumpah Pemuda menjadi momentum fenomenal yang menginisiasi kebangkitan kebangsaan yang terus menggema hingga saat ini. Terlepas dari latar belakang historis yang melingkupinya, semangat Sumpah Pemuda menunjukkan peran pemuda Indonesia sebagai motor penggerak dan agen perubahan (agen of change) dalam membentuk wajah sebuah negara. Karena itu, ada 2 (dua) poin penting yang bisa dipetik dalam situasi historis tersebut, yakni peran penting pemuda dan perubahan paradigma yang dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya pendidikan yang terealisasi dalam penguasaan, pemanfaatan dan eksplorasi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung kemajuan bangsa.
“Kesadaran untuk maju di alam modern ditentukan oleh seberapa besar kehendak dan respons pemuda terhadap dinamika zaman”
Kondisi ini sungguh sangat disayangkan, mengingat potensi pemuda Indonesia begitu besar jika hanya sekedar diperuntukkan untuk memajukan kekuatan bangsa. Sekarang ini Kebesaran bangsa semakin tenggelam, terkubur di tengah-tengah gegap gempita globalisasi. Terdapat kekeliruan memahami peralihan paradigma dalam proses regenerasi bangsa yang telah membuat pemuda menjadi kehilangan peran dan kekuatan progresifnya, khususnya menjadikannya sebagai subjek dan pelaku, ketimbang objek dari sejarah. Padahal, dukungan sejarah yang begitu heroik lewat momentum Sumpah Pemuda menjadi instrumen penggerak untuk memastikan bahwa sudah saatnya pemuda merubah paradigma masa lalunya dalam menghadapi kondisi zaman yang begitu dinamis.
Terlepas dari latar belakang historis yang melingkupinya berupa zaman penjajahan kolonial, semangat Sumpah Pemuda menunjukkan peran pemuda Indonesia sebagai motor penggerak dan agen perubahan (agen of change) dalam membentuk wajah sebuah negara. Karena itu, ada 2 (dua) poin penting yang bisa dipetik dalam situasi heroik tersebut, yakni peran penting pemuda dan perubahan paradigma yang dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya Ilmu yang terealisasi dalam penguasaan, pemanfaatan dan eksplorasi ilmu untuk mendukung kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Hanya saja, tidaklah cukup berharap pada kejayaan prinsip masa lalu, tanpa mengaktualisasikannya dengan baik di masa saat ini. Potensi pemuda yang begitu besar menjadi objek yang dikebiri oleh kepentingan pragmatis untuk dimobilisasi, sekedar untuk mencari keuntungan sesaat. Di lain pihak, pemuda tidak memiliki visi tentang masa depan, karakter kepemimpinan yang dapat menuntun arah dan langkahnya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi global.
Dengan demikian, ada beberapa hal yang perlu menjadi pemikiran pemuda. Pertama, inspirasi heroik masa lalu harus menjadi pijakan dasar filosofis yang menginspirasi peran pentingnya dalam membangun bangsa; kedua, merubah paradigma tentang kondisi dan situasi zaman yang terus dinamis, dengan memandang globalisasi sebagai peluang, bukan ancaman; ketiga, dukungan pemerintah dan para stake holder untuk memberikan ruang gerak yang luas bagi pemuda untuk selalu menciptakan kreasi baru. Daya kritis dan energi positif tidak boleh dijadikan penghambat, melainkan akselerator dan dinamisator masa depan.
Pada akhirnya, ungkapan Soekarno “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia”, adalah sebentuk apresiasi masa lalu, masa kini dan masa depan yang akan selalu menggema. Sejauh peran pemuda diapresiasi dengan baik, daya cipta mereka diberikan ruang gerak yang luas, menjadikan diri mereka sebagai subjek, maka sejauh itu pula pemuda akan selalu menjadi bagian penting dari sejarah kebangkitan bangsa ini.
HIDUP PEMUDA INDONESIA!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar