Fitrah sebagai seorang manusia adalah menyadari potensinya sebagai mahluk ciptaan Allah SWT, termasuk juga yang namanya pendidikan yang pada hakikatnya semua manusia mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Pendidikan harus membuat interelasi manusia sebagai subjek dalam dunia beserta isinya. Pendidikan secara esensial berfungsi untuk mempertemukan manusia tidak hanya dengan jati dirinya kemanusiaannya, yang utama adalah semakin dekat dan bertemu dengan Sang Pencipta. Jika dipandang sebagai bentuk hubungan horizontal maka sesama manusia dan makhluk lain harus ada harmoni kehidupan dunia.
Manusia adalah makhluk yang tumbuh dan berkembang. Ia ingin mencapai kehidupan yang optimal, kehidupan yang lebih baik secara optimal yaitu semakin dekat dengan Allah SWT, semakin paham dengan jati diri kemanusiaannya dan semakin selaras dengan lingkungan sekitarnya. Selama manusia berusaha untuk tumbuh dan berkembang secara sadar atau tidak sadar maka selama itulah pendidikan terus berjalan. Jadi pendidikan tidak hanya mengajarkan hal-hal yang sifatnya akademis, melainkan menyeluruh di setiap sendi kehidupan. Pendidikan membuat kita berilmu lebih dari sekedar memahami sisi akademis.
Makna pendidikan dapat dilihat dalam pengertian secara khusus dan luas. Dalam arti khusus pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaannya dan biasanya spesifik terhadap suatu bidang ilmu tertentu. Jadi, pendidikan dalam arti khusus hanya dibatasi sebagai usaha orang dewasa dalam membimbing anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan dan spesifik terhadap akademis. Setelah anak menjadi dewasa dengan segala cirinya dan telah diwisuda, maka pendidikan dianggap selesai. Sedangkan dalam arti luas, merupakan usaha manusia untuk semakin dekat dengan Penciptanya, dan meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan sebagai hasil ibadah Maghdah, hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik yang Berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir (Al Djamali Fadhil. 2010).
Secara definitive pendidikan adalah media transformasi antar manusia satu dengan manusia lain. Paolo Freire dalam bukunya “pendidikan yang membebaskan” mendefinisikan pendidikan sebagai prasarana untuk memanusiakan manusia. Dalam klarifikasinya pendidikan terbagi menjadi 3 bagian, yaitu formal, nonformal dan informal. Secara harfiah sekolah berasal dari kata skhole, scholae atau sehola (bahasa yunani) yang artinya “waktu luang”. Pada masa yunani kuno waktu luang yang ada setelah bekerja digunakan untuk mempelajari sesuatu kepada orang ahli. Kebiasaan tersebut juga diberlakukan kepada putera-puteri mereka dengan menitipkan dalam waktu tertentu. Disana mereka bermain, berinteraksi dan mempelajari apa yang dianggap perlu. Berikut “jenis-jenis pendidikan” yang telah ada di dunia ini.
1.Paradigma Pendidikan Konservatif
Pengikut paradigma ini melihat bahwa ketidaksetaraan masyarakat merupakan suatu hukum keharusan alami suatu hal yang mustahil bisa dihindari serta sudah merupakan ketentuan sejarahatau bahkan taqdir tuhan. Awalnya paradigma konservatif dibangun berdasarkan keyakinan bahwa masyarakat pada dasarnya tidak bisa merencanakan perubahan atau mempengaruhi perubahan sosial hanya tuhanlah yang merencanakan keadaan masyarakat dan hanya dia yang tahu makna itu semua.
Perkembangan selanjutnya paradigma konservatif cenderung menyalahkan subjek dan objeknya (yaitu manusia) bahwa orang yang miskin, buta huruf, kaum yang tertindas, mereka yang dipenjara dan lain-lain menjadi demikian karena salah mereka sendiri. Yang terdidik dikatakan jika mengikut dengan apa yang dikatakan pendidiknya tanpa perlu tahu baik buruknya jika mengikut. Dan ketika yang terdidik salah, maka dialah yang bersalah karena dia adalah subjek pendidikan. Khusus di Indonesia, system ini masih sangat subur dirasakan
2.Paradigma Liberal
Cara pandang ini memandang bahwa ada masalah di masyarakat tetapi bagi mereka pendidikan tidak ada kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi masyarakat. Tugas pendidikan tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan politik dan ekonomi, sungguhpun demikian kaum liberal selalu berusaha untuk menyesuaikan pendidikan dengan keadaan ekonomi dan politik di luar dunia pendidikan dengan usaha reformasi “kosmetik”. Dana dari “komestik” bisa saja dari pemerintah ataupun masyarakat yang dikemas dengan istilah sumbangsih pendidikan dari masyarakat. Dana ini dihasilkan dari masyarakat dengan menghantam sapu bersih walaupun masyarakatnya berekonomi lemah. Yang dapat memberikan dana ini, maka dia yang dapat menikmati pendidikan. Umumnya “usaha kosmetik” yang dilakukan adalah seperti: membangun kelas dan fasilitas baru yang diutamakan oleh pendidikan adalah “excellence” atau keunggulan dan itu harus menjadi target utama pendidikan. Paradigm liberal biasanya dislogankan “Demi Persaingan Global maka kita harus siap”
3.Paradigma Kritis atau Radikal
Mereka menganggap bahwa pendidikan merupakan arena perjuangan politik. Paradigma kritis menghendaki perubahan struktur secara fundamental dalam politik ekonomi masyarakat dimana pendidikan berada. Visi pendidikan adalah kritik terhadap system dominan pada suatu system pendidikan sebagai wujud pemihakan terhadap rakyat kecil dan yang tertindas untuk mencipta system sosial baru dan lebih adil. Tugas utama pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena system dan struktur yang tidak adil.
Pendidikan sebagai proses transformasi nilai
Pendidikan di kondisi kekinian berarti suatu proses untuk mengembangkan semua aspek kepribadian manusia yang mencakup pengetahuannya (kognitif), nilai dan sikapnya (afektif), serta keterampilannya (psikomotorik). Dalam hal ini pendidikan bertujuan untuk mencapai kepribadian individu yang lebih baik. Pendidikan sama sekali bukan untuk merusak kepribadian manusia, seperti halnya membekali pengetahuannya dan ketrampilan kepada seseorang untuk menjadi penindas atau lintah darat bagi rakyat jelatah. Namun terkadang kita diarahkan kepada hal yang sifatnya paradigm konservatif dan paradigm liberal sehingga di masa berikutnya kita menjadi penindas yang lebih parah.
Founding father bangsa kita telah meletakkan Pendidikan pada hakikatnya akan mencakup 3 dasar pendidikan (tri dharma pendidikan) yakni, pertama kegiatan mendidik dan mengajar, keduakegiatan penelitian dan ketiga pengabdian pada masyarakat. Istilah mendidik dan mengajar menunjukkan usaha yang lebih ditujukan pada semakin dekat dengan Tuhannya, pembentukan watak dalam mengembangkan budi pekerti hati nurani kecintaan, rasa kesusilaan dan lain-lain serta memberi ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan intelektual manusia. Kegiatan penelitian merupakan aplikasi dari ilmu yang didapat peserta didik untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungannya sehingga akan terjadi sesuatu pembiasaan dalam bertindak. Pengabdian dalam masyarakat adalah hal yang paling penting dalam transformasi nilai pendidikan sehingga pendidikan bisa berfungsi untuk menyelesaikan persoalan hidup bagi masyarakat yang lebih baik.
Seperti yang telah dikemukakan di atas pendidikan pada hakikatnya akan mencakup kegiatan pendidikan dan pengajaran yang memberikan ilmu, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Kegiatan tersebut sebagai usaha untuk mentransformasikan nilai-nilai maka, dalam pelaksanaannya ketiga kegiatan tersebut harus berjalan terpadu dan berkelanjutan serta serasi dengan perkembangan peserta dan lingkungan hidupnya.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan dari tri dharma pendidikan merupakan gambaran dari falsafah atau pandangan hidup manusia. Tujuan pendidikan harus mengandung tiga nilai, pertama autonomi yaitu memberi kesadaran, pengetahuan dan kemampuan secara maksimum kepada peserta didik untuk dapat mendidik, dan hidup bersama dalam kehidupan yang lebih baik. Kedua, equity (keadilan), berarti bahwa tujuan pendidikan harus memberi kesempatan kepada seluruh warga masyarakat untuk dapat berpartisipasi. Sehingga pendidikan bukan suatu barang mewah yang sangat sulit untuk dikonsumsi oleh rakyat jelata melainkan syarat mutlak yang harus didapatkan oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Ketiga, survival yang berarti bahwa dengan pendidikan akan menjamin pewarisan kebudayaan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Berdasarkan ketiga nilai tersebut di atas, pendidikan mengemban tugas untuk menghasilkan generasi yang lebih baik dan menggambarkan pendidikan dalam konteks yang sangat luas yang mencakup kehidupan seluruh umat manusia dimana tujuan utama pendidikan pendidikan adalah memanusiakan manusia.
Alat Pendidikan
Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antara pendidik dan anak didik untuk bersama-sama dalam mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut akan terjadi perbuatan pendidikan apabila perbuatan tersebut disengaja untuk mencapai tujuan pendidikan disebut alat pendidikan. Jadi alat pendidikan adalah suatu tindakan atau perbuatan atau situasi, yang dengan sengaja untuk menciptakan tujuan pendidikan. Namun apabila perbuatan dalam situasi tersebut tidak disengaja untuk mencapai tujuan pendidikan maka perbuatan tersebut disebut Faktor pendidikan (Hasbullah. 2006). Secara lahiriah sukar untuk membedakan antara alat pendidikan dengan factor pendidikan. Kadang-kadang akibat dari factor pendidikan bisa sama. Sebagai contoh seorang ayah menyuruh ayahnya untuk pergi ke ladang untuk mengembala kambing dan sapi dengan tujuan anak tersebut memiliki tanggung jawab kedisiplinan dan bekerja keras selalu dalam menggapai cita-cita hidupnya, maka perbuatan tersebut adalah alat pendidikan. Di lain pihak, seorang ayah menyuruh anaknya ke ladang dengan tujuan hanya sekedar untuk membantu meringankan beban pekerjaan ayahnya, maka perbuatan tersebut adalah factor pendidikan.
Pada perbuatan pertama jelas (pendidik) menyadari akan tujuan tindakannya, yaitu agar dalam diri anak tertanam tanggung jawab, kedisiplinan dan kerja keras dalam cita-cita sedangkan pada tindakan kedua tujuannya hanya untuk kepentingan ayah (pendidik), tidak didasari untuk tujuan pengembangan kepribadian anak.
Pendekatan Pendidikan
Pendekatan pendidikan biasanya bisa terbagi dua model pendidikan yaitu: pertama, pendekatan pedagogi, pada model ini merupakan suatu proses pendidikan yang menempatkan objek pendidikannya sebagai anak-anak meskipun usia biologis mereka sudah termasuk dewasa. Konsekwensinya peserta didik menjadi murid yang pasif. Murid sepenuhnya menjadi objek, dimana guru menggurui, murid dievaluasi dsb. Intinya metode ini menempatkan guru sebagai inti terpenting sementara murid menjadi bagian pinggiran. Kedua, pedekatan pendidikan andragogi atau pendekatan pendidikan orang dewasa, merupakan pendekatan yang menempatkan peserta dan belajar sebagai orang dewasa yaitu murid sebagai subjek dari system pendidikan. Murid diasumsikan memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan arah, memilih bahan dan metode yang dianggap bermanfaat, memikirkan cara terbaik untuk belajar, menganalisa dan menyimpulkan serta mampu mengambil manfaat pendidikan. Fungsi guru sebagai fasilitator, tidak menggurui, dan relasi guru dan murid sama-sama menjadi pelaku (pendidikan). Pendekatan tersebut juga sering dikenal sebagai pendekatan dialogis, intinya anak dididik sebagai subjek yang belajar, subjek yang bertindak dan berfikir, dan pada saat bersamaan berbicara menyatakan hasil tindakan dan buah pikirannya, begitu juga guru. Guru dan murid saling belajar satu sama lain, saling memanusiakan. Hubungan keduanya bersifat subjek-subjek, bukan subjek-objek, objek mereka adalah realita sehingga tercipta suasana dialogis yang bersifat intersubjek untuk memahami suatu objek bersama. Jikalau manusia telah saling memanusiakan maka kita telah sangat dekat dengan Sang Maha Kasih dengan Segala Kekuasaannya
Pendidikan adalah sebuah proses membutuhkan waktu yang panjang. Yaitu pendidikan sepanjang hayat berlangsung mulai pendidikan dalam keluarga sekolah formal sampai pendidikan di masyarakat. Pendidikan tersebut bersifat dinamis dan senantiasa sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan kemajuan jaman. Falsafah dan hakikat pendidikan sebenarnya sebagai media dan pembebasan dari yang semula jauh dari Tuhannya menjadi dekat, tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa sehingga masyarakat tidak terbelenggu pada paradigma yang dogmatis. Setiap diri manusia memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa mengenal usia dan tanpa dibatasi oleh bangunan gedung sekolah yang megah yang memisahkan antara si kaya dan si miskin. Falsafah pendidikan yang memanusiakan manusia (humanize the human being) harus tetap menjadi pandangan hidup dalam dunia pendidikan sehingga akan tercipta pendidikan yang bebas secara politik, sejahtera secara ekonomi, adil secara hukum dan partisipatif secara budaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar