Selasa, 03 April 2012

ketika tulisan tak terbaca dan teriakan di dengarkan


salah satu metode menyampaikan aspirasi melalui menulis. Namun apakah metode ini akan efektif mewakili suara Rakyat yang tidak sepakat dengan kebijakan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat? toh banyak opini yang berkembang, baik di media elektronik maupun media cetak yang hanya menimbulkan kontroversi. Dan pada akhirnya opini tersebut di balas opini ataupun data data manifulatif yang di lakukan oleh pengambil kebijakan di negeri ini.

Opini inilah yang selalu mengkoptasi pemikiran rakyat  agar mau menerima kebijakan pemerintah yang belum tentu berpihak kepada rakyat. Hal yang cukup miris, karena sebagian besar mahasiswa juga ikut tertipu dengan opini seperti itu. yang lebih miris lagi jika ibunda pertiwi yang senantiasa mengharapkan mahasiswa sebagai ujung tombak bangsa justru apatis terhadap opini dan penindasan yang dilakukan birokrat. 

Timbul pertanyaan di benak kita mengapa banyak mahasiswa yang mampu beropini namun tak mampu meneriakkan opininya dan mengapa sebagian besar teman-teman mahasiswa cuek dengaan wacana yang tidak pro rakyat. Namun itulah Realita kampus hari ini, menciptakan mahasiswa yang bersifat apatis terhadap gejola sosial bahkan cendrung  memiliki sikap pragmatis. Hal ini tak terlepas dari masuknya budaya hedonis ke pada kaum intelektual, sehingga lupa peran mahasiswa sebagai agen of change, sosial control dan moral force. Selain itu tekanan dari penguasa melalui birokrasi kampus telah melunturkan jiwa kritis mahasiswa dengan menitip beratkan mahasiswa pada akademinya. Sebut saja bagaimana mahasiswa di tuntut untuk cepat selesai sebagai tuntutan kerja, absensi di perketat, rutinitas tugas yang padat bahkan sanksi skors ataupun pemecatan(DO) bagi yang melawan kebijakan ini. Namun tidak ada alasan bagi kita dengan adanya sebuah format pembodohan seperti ini akan mematikan api perjuangan seiring turunya senja di upuk barat.sebagai kaum intelektual, masih ada panggilan nurani dalam diri kita masing-masing melihat rakyat yang semakin kebingungan dan berada di pesimpangan jalan.

ATAU

Apakah kita akan berdiam diri membiarkan penindasan itu terjadi??? 
Apakah tidak ada lagi mahasiswa yang peduli akan nasib rakyat indonesia yang masih jauh dari kata sejahtera???
Apakah tangis ibu pertiwi kembali tak terbalas melihat pembodohan dan penindasan ini???
wahai engkau sang mentari, sampaikan padanya bahwa masih ada teriakan-teriakan di pelataran dan di jalanan yang membakar semangat perjuangan untuk rakyat tercinta, Yang akan merongrong singasana keangkuhan dari para pemimpin yang tidak peduli kepada rakyatnya
 
Diam tertunduk maka tertindas
bangkit melawan lalu mundur adalah pengkhianatan
hanya ada satu kata LAWAN
HIDUP RAKYAT, RAKYAT BERSATU, TAK BISA DIKALAHKAN

1 komentar:

  1. teruslah memperjuangkan hak2 rakyat....
    demi terciptanya yang namanya keadilan dan kesejahteraan....
    semangat berkobar kan sllu mengiringi lngkah setiap perjuangan mahasiswa....

    BalasHapus