LAPORAN PERTANGGUNG JAWABAN
BEM FMIPA UNM
DEPARTEMEN III (ADVOKASI DAN KOMUNIKASI)
PERIODE 2011-2012
ASSALAMU’ ALAIKUM WR. WB.
Yang Kami hormati kawan-kawan anggota Majelis Permusyawaratan Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Makassar
Yang kami hormati kawan-kawan di lembaga kemahasiswaan se-FMIPA Universitas Negeri Makassar, dan
Yang kami hormati kawan-kawan mahasiswa Universitas Negeri Makassar
1. PENDAHULUAN/MUQADDIMAH
Wahai yang maha pengampun. Tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah sang pencipta, yang tidak di ciptakan. Matamu maha melihat segalanya namun Engkau adalah tak terlihat. Engkau abadi dalam ciptaanmu. Tak ada pengetahuan yang melampaui-mu. Engkau berpengetahuan melebihi segalanya. Tak ada kata yang mampu menampung-mu, tak ada kata yang dapat melukiskanmu, tak ada pujian yang benar-benar tepat bagi-mu. Engkau berdiri tegak dalam ciptaan-mu, tapi ciptaanmu bukanlah engkau.
Wahai yang maha tahu. Jagat ini milikmu. Tapi engkau bukanlah jagat itu sendiri. Jagat ini adalah gengaman bagi-mu. Engkau melebihi tapi tak bisa dilebihi. Disetiap kata, tekanan pada setiap huruf adalah bukti kuasamu. Kekuatan tangan dan badan ini sesungguhnya adalah bukti pengampunanan-mu yang penuh belas kasih dan kasih sayang kepada hambamu. Segalah puji dan rasa syukur terutang pada-mu. Bahkan atas mereka yang dalam tulisannya mengingkari kehadiratmu.
Shalawat dan salam kita persembahkan bertabur totalitas Cinta kepada Kekasih ALLAH Muhammad SAW. Sang pendobrak kejahiliyahan dan Pemantik Revolusi Suci yang tak tertandingi untuk kemanusiaan, dan demikian pula kepada baginda Imam Ali bin abi tholid sebagai pewaris kekhilafahan. Dan para ahlul Bait yang senantiasa berwilayah di jalan kebenaran.
2. Gambaran Idealitas
“Jika engkau dizalimi, jangan berbuat zalim, jika mereka mengkhianatimu, janganlah engkau berkhianat, jika engkau dianggap pembohong, janganlah marah, jika engkau dipuji, janganlah gembira, dan jika engkau dicela, kontrollah dirimu”
Sidang Mufak yang berbahagia
Ditengah krisis multi dimensi yang melanda negeri ini para pengelolah Negara ini justru semakin berpoyah-poya diatas penderitaan rakyatnya, lihat saja mereka seenaknya reses keluar negeri dengan menghabiskan uang Negara, lihatlah bagaimana mereka menghabiskan anggaran 2 miliar hanya untuk membuang hajat mereka, pun demikian dengan tempat parkir mobil mewah mereka yang menghabiskan miliaran rupiah uang rakyat kita. Sementara rakyatnya sedang dilanda busung kelaparan, putus sekolah, dan kemiskinan yang makin akut. Lihatlah mereka dengan enaknya tidur dihotel-hotel berbintang, diatas kasur yang empuk sementara rakyatnya tidur dibawah kolom jembatan. Saksikanlah para rakyat yang digusur dari tempat tinggal mereka dengan dalih untuk penataan kota dan rencana pembangunan proyek. Tataplah para nenek-nenek, ibu-ibu dan para bocah-bocah diperapatan lampu merah dikota-kota besar yang tidak sekolah dan relah berpanas-panasan dengan teriknya sinar matahari siang sementara para penguasa negeri ini berfantasi dalam gedung yang ber AC. Penomena kaum miskin kota yang kehidupan mereka semakin menjerit oleh kebutuhan hidup yang semakin susah, para buruh yang diperas tenaganya dengan upah yang tidak sesuai hasil kerja mereka, petani yang semakin banyak tergusur dari sawahnya. Pada hal merekalah sumber kehidupan, merekalah yang menghidupi para penguasa negeri ini. Namun lagi-lagi sepertinya hati, pendengaran, dan penglihatan para penguasa seakan-akan tertutup untuk merasakan, mendengar, dan melihat penderitaan rakyatnya. Pada hal para penguasa negeri ini didaulat oleh rakyat, seluruh kebutuhan mereka semuanya dibiayai oleh rakyat. Ini merupakan sebuah penindasan yang dilakukan oleh para penguasa terhadap rakyat. Kebijakan-kebijakan para penguasa justru lebih berpihak pada kepentingan para kaum pengusaha/kapitalis yang berada pada pendukung globalisasi yang kemudian menawarkan sebuah sub ideology yang dikenal dengan neoliberalisme. Pada hal neoliberalisme jelas-jelas tidak akan membawah kesejahteraan kepada rakyat kecil, akan tetapi justru semakin menginjak-injak rakyat kecil. Lihat saja dengan naiknya harga BBM, lahirnya rancangan UU tentang privatisasi air, dan UU BHP yang telah disahkan akan menjadikan PT menjadi lumbung privatisasi serta kebijakan-kebijakan lainnya yang tidak memihak terhadap rakyat kecil namun Alhamdulillah belakangan telah berhasil ditinjau kembali dan pada akhirnya dicabut.
Seribu satu macam persoalan yang ada dinegeri ini, tentu tidak akan mudah diselesaikan. Namun begitu bukan menjadi sebuah alasan untuk berputus asa dan tidak mau ambil andil dalam proses perjuangan pembebasan rakyat dari segalah bentuk penindasan. Karena sesungguhnya kita diciptakan oleh Tuhan dalam keadaan merdeka, maka tak pantas diri hidup dalam penjajahan. Sebagai seorang insan yang senantiasa menginginkan perubahan, maka tentu dia tidak akan bosan dalam menyongsong segerah meledaknya revolusi melainkan akan tetap senantiasa mendekatkan dirinya kekomunitas-komunitas yang bergerak menuju meledaknya revolusi sosial. Sehingga perjuangan menjadi sebuah keniscayaan. Apatah lagi sebagai manusia yang ditugaskan untuk menjalankan fungsi-fungsi kenabian tentu akan senantiasa mempersembahkan hidupnya digaris perjuangan sebagai warisan dari risalah kenabian.
Perlawanan terhadap agenda-agenda neoliberalisme di Indonesia merupakan arah kebijakan lembaga Kemahasiswaan UNM yang dirumuskan pada Musyawarah Besar ke VIII. Pilihan ini diambil setelah melalui proses pengkajian dan eksplorasi wacana yang dalam. Mengapa perlawanan terhadap neoliberalisme perlu dilakukan dan menjadi arah kebijakan lembaga? Karena neoliberalisme merupakan sub ideology yang ditawarkan oleh para pendekar globalisasi. Dimana actor terpenting dari globalisasi yakni Para korporasi transnasional (TNCs) dengan tujuan menguasai ekonomi suatu negara melalui investasi, perdagangan bebas, utang luar negeri kepada Negara-negar miskin lewat IMF ( International Monetary Fund) dan Bank Dunia (Word Bank). Kemudian hadirnya kesepakatan GAAT (General Agreement on Tariff and Trade) yang dimaksudkan untuk lebih memberikan keluasan dan kebebasan bagi perusahaan agribisnis raksasa multinasional dan transnasional untuk melakukan investasi, reproduksi, dan berdagang komoditi tanpa adanya hambatan, regulasi atau tanggung jawab sama sekali.
Melalui paksaan lembaga financial internasional seperti IMF dan Bank Dunia, kebijakan neoliberalisme diterapkan. Contoh kasus dari kebijakan neoliberalisme di Indonesia, yakni pemotongan subsidi minyak, privatisasi bank Negara, universitas dan pendidikan, PLN, rumah sakit umum, perusahan tambang dan perkebunan Negara, serta telkom. Divestasi terhadap perusahaan-perusahaan Negara dan bank pemerintah, liberalisasi perdagangan dan perpajakan lagi-lagi sebagai akibat dari kebijakan neoliberal.
Kemiskinan yang melanda sebagian besar masyarakat dunia tidak bisa dianggap sebagai persoalan individu semata. Bahwa factor penyebab kemiskinan bukan karena individunya malas dan bodoh dan bukan pula disebabkan kutukan dari Tuhan. Marginalisasi bukan pulah kesalahan mereka seperti mitos yang diajarkan dalam beberapa teori pembangunan dan modernisasi, mereka miskin bukan pula karena tidak ada semangat membangun, bukan pulah karena hasrat berprestasi mereka rendah, juga bukan karena menganut teologi fatalistik akan tetapi mereka dilemahkan, dimiskinkan bahkan dimarginalkan. Pemiskinan itu merupakan suatu system dan mekanisme politik yang bersembunyi pada kebijakan politik dan ekonomi yang diskriminatif dan meminggirkan. Mereka telah dikorbankan dan menjadi tumbal bagi tujuan abstrak sebuah angka-angka palsu yang dikenal dengan pertumbuhan ekonomi
Kehadiran Lembaga Kemahasiswaan sebagi sebuah wadah perjuangan dalam mengartikulasikan dan mengaktualisasikan ide dan gagasan dalam tataran praktis dalam rangka mewujudkan visi dan misi organisasi mesti memiliki landasan yang jelas dan kuat. Apalagi yang menjadi musuhnya adalah kekuatan besar.
“Tidak akan berubah nasib suatu kaum
kalau bukan kaum itu sendiri yang mengubahnya.”
Perubahan adalah suatu keniscayaan karena sesungguhnya yang kekal dialam materi adalah perubahan itu sendiri, maka perubahan harus digerakkan. Sejarah telah banyak mengajarkan kepada kita bahwa perubahan selalu lahir dari kaum muda. Mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda senantiasa dituntut untuk menjadfi pioneer-pioner dalam katalisator transformasi social. Tanggung jawab mahasiswa sebagai kaum muda senantiasa dituntut oleh zaman untuk hadir sebagai penerus risalah perjuangan para nabi-nabi Tuhan
Mahasiswa sebagai bagian dari eksponen bangsa harus berani untuk senantiasa menjadi oposan bagi para tirani dalam menyuarakan suara-suara kebenaran dan keadilan. Tetesan darah para suhada yang membasahi bumi pertiwi merupakan bukti perjuangan anak muda yang gandrung akan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.
Sidang Mufak yang Berbahagia
“Demonstrasi dalam meruntuhkan tirani setara dengan beribadah
Sehari, sebulan dan setahun”
Kehadiran lembaga kemahasiswaa dikampus mestinya menjadi instrumen dan wadah aspirasi mahasiswa dalam pembacaan dan responsifnya terhadap berbagai fenomena-fenomena kampus, masyarakat, dan negara. Lembaga kemahasiswaan harus menjadi alat dalam mengontrol kebijakan pemerintah, perilaku penegak hukum, perilaku penguasa yang cendrung mengebiri lingkungan hidup dan masyarakat kecil, begitu pula dalam hal pemberdayaan masyarakat. Namun, sangat ironi ketika kemudian virus kapitalisme yang individualistik telah menghegemoni fungsionaris lembaga, ketakutan-ketakutan akan masa depan terbukti ampuh membunuh kesadaran kritisnya. Akhirnya kita dapati aktivitas fungsionaris mahasiswa tak jauh sebagai penyelenggara kegiatan-kegiatan yang kadang bersifat suksesi, seperti seminar, dan pertemuan-pertemuan formal yang justru sering kali menghadirkan orang-orang yang bermasalah untuk berbicara didepan mahasiwa dan publik. Pengusaha-pengusaha yang berkolaborasi dengan pengusaha yang senantiasa mengebiri hak-hak rakyat, seharusnya mejadi fokus untuk aksi mahasiswa, namun tak jarang menjadi fokus pencarian dana. Sehingga independensi seorang fungsionaris agak terkikis oleh bantuan dana ala kadarnya tersebut. Fenomena lain yang dialami oleh fungsionaris adalah ketakutan-ketakutan dalam mengambil tindakan tanpa dibarengi restu oleh penguasa kampus yang khusus menangani bidang kemahasiswaan, ini meletakkan mahasiswa pada mental kolonial yang tidak membangun rasa kepercayaan diri dalam memimpin teman-temannya.Hampir keseuruhan masalah yang ditimbulkan oleh konflik mahasiswa baik antar individu maupun antar kelompok dalam menyelesaikan permasalahan selalu dilemparkan atau diserahkan kepada birokrasi kampus, sehingga kehadiran lembaga kemahasiswaan perlu dipertanyakan eksisitensinya ataukah justru para fungsionaris tidak siap menjadi pemimpin yang akan mengayomi teman-temannya. Maka, menjadi pemimpin yang sejati maka harus memiliki karakter yang mulia.
Menurut ajaran Islam, tiap insan dikaruniai karakter potensial yang sama, yakni akal. Setelah itu kitab-kitab Tuhan sebagai pedoman yang dapat dipahami dengan akal manusia tadi berbicara kepada pemilik diri, harga diri, dan karakter termulia. Maka siapa pun yang masih waras tidak akan membuang atau setidak-tidaknya menukar harga dirinya dengan harga yang murah.
Karakter atau sifat merupakan hal yang substansial dalam organisasi maupun pada tiap-tiap insan. Karakter organisasi sebagi ciri non simbolik yang melekat kuat dalam kepribadian organisasi. Karakter inilah yang akan memberi semangat utama untuk membangkitkan kepercayaan diri organisasi tersebut. Apapun yang terjadi diluar dirinya tidak banyak berpengaruh pada sikap dan pendirian-pendiriannya. Inilah yang akan membentuk mata air kepercayaan diri, dan dari sinilah mengalir seluruh sungai harga diri.
Karakter pada diri, kelompok maupun bangsa menjadi aset vital bagi masa depan sejarahnya. Merakit masa depan tanpa karakter hanyalah sia-sia belaka ibaratkan menegakkan benang basah. Insan yang berjalan tanpa kekokohan karakternya tidak jauh bedah dengan budak belian yang harga diri tertingginya terletak diujung lidah, ujung telunjuk, ujung pena, bahkan di telapak orang lain. Demikian juga organisasi/kelompok dan bangsa.
Sebuah kelompok yang kehilangan karakter tak jauh beda dengan pribadi bermental budak. Bahkan lebih bahaya dari itu, sebab kelompok sejenis ini akan menjadi tempat berkumpul orang-orang takluk dan tempat berkumpul pribadi lemah. Yang hanya menunggu momen untuk menjadi tiran bila dapat kesempatan dan menjadi beban jika tidak dapat peluang.
Setiap kelompok eksis dan hidup dengan jiwa karakternya masing-masing. Bukan tidak mungkin kematian akan segera menjemput setiap kelompok yang kehilangan karakternya. “tiap-tiap ummat memiliki ajal (Q.S: 7:34 dan 10:49) Matinya sebuah kelompok adalah hilangnya karakteristik jiwa primordial yang menyatu utuh pada diri tiap-tiap insan semenjak lahirnya. Sebagian dari jiwa primordial itu adalah perlakuan adil, rasa aman, perlindungan, penyempurnaan, penghargaan, pembebasan, kesetaraan, kemandirian, kemerdekaan dan setaranya.
Baginda Rasulullah yang mulia, menegaskan agar tiap-tiap diri berproses untuk mengenakan akhlak Allah SWT. Jika Allah adalah zat yang maha merdeka, maka manusia harus menanggalkan seluruh ikatan-ikatan selain Allah. Dengan demikian, bukan saja Islam amat membenci manusia yang menjajah manusia lain tetapi amat murka pada manusia yang dijajah tapi tidak melawan. Ali bin Abi Thalib katakan bahwa : Kalian dicipta Allah SWT dalam keadaan merdeka, maka tak pantas diri kalian hidup dalam kerangka penjajahan.
Orang yang akan ada saat kau membutuhkannya dan mengerti ketika kau butuh ruang untuk sendiri. Seseorang yang akan menguatkanmu ketika kau lemah, dan ketika kau menopangnya kau akan menjadi utuh. Bagian yang terpisah dari dirimu, sekaligus paling mengerti siapa dirimu yang sebenarnya.
Permohonan maaf buat rekan-rekan seperjuangan, jika selama ini kami sering melahirkan ketersinggungan kawan-kawan. Yakinlah semua itu sebagai bentuk kasih sayang seorang saudara antara kakak atau adiknya, antara Romeo dan Juliet, antara Rama dan Sinta, antara sesama manifestasi Tuhan. Perjuangan kita belum usai kawan, maka dari itu hentikanlah semua berwajah dan bermulut dua selama ini nampak karna;
“Hamba yang paling celaka adalah hamba yang berwajah dan bermulut dua; ia memuji saudaranya di hadapannya dan menghibahnya di belakangnya, jika saudaranya itu dianugerahi nikmat, ia iri dan jika ia ditimpa musibah, ia menghinanya”.
Tidak ada pengorbanan, tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa kemenangan, tanpa usaha dan do’a, sampai bertemu di medan perjuanagan.
3. KONDISI REALITAS
Satu periode telah usai, kita akan menolek kebelakang dan terlihat hanyalah sejarah. Suatu pergulatan menarik yang dapat kita cermati dari hasil apa yang dapat kita buahi lewat perjalanan singkat ini. Banyak kemugkinan yang bisa kita ukir kebaikan atau keburukan. Tapi kita tidak akan melihat sisi ekstrim ini karena ego kita masing–masing akan membenarkan apa yang kita lakukan; artinya bersama-sama mencari pembenaran-pembenaran dari apa yang telah terjadi. Tapi tetap pertimbangkan siapa pembenaran yang lebih akurat dan valid dan menerima pendapat satu sama lain dengan lapang dada.
Komunikasi sesuatu hal yang paling penting karena hal ini bisa jadi pemicu kesalahan konsepsi, interpretasi dan konflik dalam suatu komunitas. Realitas inilah yang menjadi dilematis dalam pengambilan kesimpulan. Diam, agar dipahami bukanlah suatu penyelesaian sebab setiap orang beda dalam menanggapi. Setidaknya ada kita dan sesuatu yang menggema sampai di telinga walau dipahami inilah kesadaran yang paling rendah. Karena kesimpulan tergantung siapa dan pada anggapan awal yang ada dikepala kita. Ada yang paham dan ada yang dipahamkan,ada yang sadar yang sadar menyadarkan. Suatu keniscayaan dari perbedaan, hanya saja kita disekati oleh ‘binari logic’ kita. Dan ini yang terkadang lupa dan terlambat kita sadari.
Konsep tetaplah konsep ketika ia belum terealisasi, tapi itu penting sebab tanpa konsep tak ada yang bisa yang dijalankan. Atau hanya sebatas ngomong doangk, berteriak; tanpa paham apa-apa. Inilah keduanya yang mesti dimiliki oleh kaum intelek (walaupun intelek kecil-kecilan) yang penting ada dari pada tidak satu sama sekali. Apa akibatnya jika salah satunya tidak ada?. Orang yang mengandalkan ngomong (baca; banyak carita) tapi tidak pernah sama sekali mengaplikasikan apa yang ia ucapkan sampai berbusa mulutnya tidak akan sampai pada tujuannya apa lagi menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Begitupun dengan orang yang selalu bertindak dan bertindak (baca; reaksioner) juga akan mengalami kebuntuan sedikit-sedikit sampai pada aksi brutal yang tidak terkontrol.
Rumah adat Selayar jadi saksi dirumuskan bersama sama suatu konsep yang akan dijalankan selama satu priode beserta yang akan menjalankannya. Suatu amanah yang amat berat bagi kami dan mungkin ringan bagi yang lainnya. Namun amanah tetaplah amanah harus dijalankan, kalau tidak ingin menanggung dosa sosial ketika mengabaikannya……….kini kita di peng hujung jalan!. Mata melihat, telinga mendengar, mulut bicara, hati meresah, dan lidah merasah; masing-masing punya penilaian dan interpretasi sendiri (jangan dikeluarkan dulu belum waktunya).
Sebagai laporan pertanggung jawaban tentunya kita akan berbicara dan mengukir kembali apa yang telah dilakukan selama satu periode kepengurusan. Tidak ada akibat tanpa satu sebab. Mengawal sebuah lembaga tentunya tidak terlepas dari sebuah dinamika.
Sampai Pleno dua yang di laksanakan di kampus, beberapa hal yang telah kami lakukan adalah :
- Aksi hampir selama satu minggu pada bulan April 2012 Dalam menolak kenaikan harga BBM yang diwacanakan oleh rezim Susilo Bambang Yudiono dan Boediono. Baik itu aksi yang di lakukan di depan kampus parang tambung maupun aksi yang di lakukan secara bersama-sama melingkar dengan BEM UNM yang di lakukan di kampus Gunung sari atau jalan AP PETTARANI. Aksi ini juga diikuti bukan hanya oleh BEM FMIPA tapi juga perwakilan dari setiap LK jurusan mendapatkan respon yang cukup signifikan. Meskipun aksi ini hanya diikuti oleh kuantitas massa yang belum banyak, namun satu hal yang membuat kami bangga pada hari itu, karena Bendera LK FMIPA kembali berkibar di setiap penjuru aksi setelah sekian lama rentetan aksi tanpa bendera pemersatu karena bendera pada periode sebelumnya telah lusuh dan tak layak pakai lagi. Bagi kami perlawanan takkan pernah usai meskipun sehasta demi sehasta selangkah demi selangkah, sebagaimana sabda Sang Revolusioner sejati “Amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus meski hanya sedikit”.
- Aksi 2 mei 2012 bergabung dengan sembilan mata orange dalam rangkah memperingati hari pendidikan nasional, aksi ini mengangkat isu tentang komersialisasi,liberilisasi dan kekerasan dalam pendidikan. Dimana aksi ini mendapat respon dari pihak birokrasi kampus, untuk berdialog dengan mereka dan di tercapai kesepakatn untuk segera di tindak lanjuti, diantaranya, melakukan evaluasi terhadap dosen yang lalai dalam menjalankan tugasnya, menolak SPP Tunggal yang sedang di godok oleh birokrasi, memperbaiki fasilitas kampus yang rusak dan sudah tidak layak pakai dll
- Suara Biru sebagai Propaganda dan Agitasi pun kami gencarkan mengangkat seputar masalah problematika dan dinamika yang ada di kampus maupun yang ada di luar kampus dan sebagai alternative metode perlawanan yang telah menambah pemandangan ‘indah’ di tembok-tembok Fakultas. Meskipun kami terkadang heran karena pamphlet-pamflet yang telah kami tempel hanya bertahan beberapa hari.
Mencermati situasi dan kondisi seperti diatas, kampus seharusnya memang sangat memerlukan seorang advokat radikal yang tidak bisa dipisahkan dari sekting sosial yang melingkupinya mesti mengambil peran yang signifikan, sesederhana apapun tindakan itu. Meskipun kondisi internal bidang juga dapat dikatakan memprihatinkan, karena tak sedikit melahirkan aura pasif dan individualistik dari beberapa kawan-kawan pengurus Namun gerakan mahasiswa MIPA selanjutnya mesti terlibat secara rill untuk menjawab tantangan-tantangan zaman baik lokal maupun global formula kegiatan yang dicanangkan bukan hanya menggugurkan kewajiban (realisasikan program kerja semata) tetapi lebih dari itu program kerja yang dirumuskan dan dilaksanakan nantinya akan memberikan efek kepada pengurus khususnya dan mahasiswa pada umumnya baik secara kognitif maupun implikasi secara praktis.
“Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata (WS. Rendra”)
4.DINAMIKA KEPENGURUSAN
Pengurus Bidang Sosial Dan Politik BEM FMIPA UNM yang terdiri dari 5 orang diharapkan mampu bekerja dan memperbaiki sistem kepengurusan namun kenyataannya belum mampu menjalankan fungsinya dengan baik karena setiap anggota sibut dengan urusannya masing masing. Walaupun demikian halnya bukan berarti Departemen Advokasi dan Komunikasi tak mampu menjalankan tugasnya. Departemen Advokasi dan Komunikasi tetap berusaha menjalankan setiap amanah yang diberikan kepada kami seperti merealisasikan program kerja dan melakukan melakukan investigasi.
5.PROYEKSI
Terkadang kita tidak sadar ataupun sadar tapi ‘ciut’ terhadap besarnya tantangan yang harus dihadapi demi tegaknya kebenaran…..bahkan sampai menjilat pantat ketika ia sudah bosan dengan idealismenya. Ketika tidak ada lagi yang menjadi pahlawan kesiangan tidak akan adalagi penegak panji kebenaran dan jika itu sudah berhubungan dengan kepentingan kebanyakan kita menjual kebenaran dengan harga yang murah, untuk kenyang sesaat, ataupun untuk mendapatkan gelar . Tidak lagi peduli dengan apa yang pernah di ucapkan dengan suara yang lantan, mata memerah, dan keringat bercucuran. Teriakan itu hanya sesaat dan reaksioner semata. Setelahnya, lewat masa tidak ada lagi teriakan itu dengan alasan bukan lagi masanya. Tapi tidak bisakah dengan cara/hal yang lain?.
Untuk mereka masih memegang perinsip setiap jaman ada masanya. Sadar lah ini adalah pemikiran dangkal. Perjuangan tidak hanya sehelai nafas saja, seumur jagung ataupun sampai pada meja skripsi; Tapi bukankah suara kebenaran itu mesti lebih keras lagi walau sudah berada di liang lahat. Mari cermati apa yang pernah dilakukan oleh para Rasul dan Nabi pembawa risalah, apa yang dilakukan masih menggema sampai sekarang. Beda dengan sebagian wakil-wakil kita yang sudah banyak dipenuhi transkrip namun belum bisa menghasilkan sesuatu yang lebih.
Siapa lagi yang berani bersuara kebenaran? Tidak usah jawab saya/kami/ dan kamu. Tunjukkan dan internalisasikan pada diri kita. Kebenaran pada hari ini masih bisa ditutup dengan hal-hal yang masih irrasional dan pemahaman democrasy hanya sebatas konsep tapi ketika bersentuhan dengan pribadi dan kepentingan semata. Demokrasi itu di buang ditempat sampah melahirkan ‘democrazy’.
Apa yang telah kami lakukan bukanlah apa-apa dan besar harapan kami kepada pengurus yang baru menjalankan kepengurusannya kedepan sangat perlu untuk memperbaiki kultur yang ada dalam artian adalah membenahi apa yang menjadi setiap kekurangan dari kepengurusan ini. Mengingat banyaknya persoalan persoalan yang sangat kompleks akan terjadi kedepannya sangat perlu sebuah persiapan dalam menhadapinya. Setiap apa yang pernah dilakukan oleh BEM FMIPA UNM saat ini bukanlah sebuah kesempurnaan yang sifatnya sangat mutlak, melainkan hanyalah sebuah kesempurnaan yang relatif.
“Terkadang kita di takdirkan untuk kalah Tapi
Ingatlah kawan kita tidak pernah di takdirkan untuk menyerah
Kita ini Pejuang Bukan Pecundang”
6.KHATIMAH
Melengkapi uraian di atas, maka izinkanlah lagi kami menitipkan suatu penghargaan akbar, bukan kesediaan dari warga memaafkan segala ulah kami tetapi suatu keinginan agar pengurus mendatang menyiapkan cermin kehidupan untuk setiap saat dapat melakukan evaluasi kekurangan bukan yang selama ini bahwa evaluasi dilakukan hanya pada forum mufak saja yang cenderung cerminnya sudah berdebu sehingga pantulannyapun sangat abstrak.
Bahwa sampai kapanpun kita akan selalu bertanggung jawab terhadap berbagai persoalan keummatan dan penciptaan kondisi masyarakat yang lebih baik. Mari tunjukkan bahwa niat kami adalah karena Allah, karena Rasul-Nya, karna nurani kami terpanggil melihat penindasan dan dikarenakan kami berjuang untuk ajaran yang hanif (lurus dan baik). Kerja-kerja kita tidak sampai atau berhenti sampai disini saja walau sudah mengangkat kaki tapi kita masih punya tanggung jawab untuk kontinyunya perjuangan ini sampai datang utusan-Nya yang akan meluruskan dan memberikan penerangan kepada ummat manusia di akhir zaman nanti.
Problematika di dalam kampus hanyalah bagian terkecil dari kehidupan bermsyarakat. Kita tidak akan mungkin selamanya berada bersama dalam dunia yang penuh ‘kontroversi’ dan intrik yang melingkupinya ini, karena tentunya kita akan kembali bergabung (bagi yang memilih) dan menjadi bagian dari masyarakat yang multi konflik dan kita harus siap akan kesemua itu, sebab akan banyak perbedaan yang akan kita hadapi nantinya. Berteman, bukan untuk sekedar menghabiskan sisa minuman kehidupan dunia, tapi hidup untuk sebuah cita dan cinta yang takkan pernah kandas sia-sia. Ada cita-cita, ada idealisme Rabbani yang mesti kita perjuangkan bersama.
Saudaraku sekalian, bagaimana pun lembaga ini telah banyak mengajarkan kita akan kedewasaan dalam menghadapi hidup, dengan berbagai dinamika yang pernah kita jalani bersama akan menjadi kisah klasik tersendiri dari kepengurusan kita bersama. Membuang jauh-jauh kata perbedaan dan mencoba untuk mengawali segalanya dari kesamaan. Pada kata itu kutemukan hakikat hidup dan kehidupan, karena bersamanya kita menahan derita dan sengsara, gundah dan gulana, namun begitu manis terasa segala kerutan layar perjuangan, karena Tuhan lah yang telah membuatnya.
Saya yakin bahwa kita semua memiliki setumpuk kekurangan dalam mengawal lembaga ini, dalam menjalankan fungsi-fungsi lembaga, namun jangan sampai melemahkan perjuangan rekan-rekan di kepengurusan berikutnya. Amin….
Kepada segenap mahasiswa FMIPA, rekan-rekan seperjuangan, teman bercanda di saat dibutuhkan, berdiskusi, dan terkadang dibumbui dengan pertengkaran dan ketersinggungan, saya ucapkan banyak terima kasih atas loyalitas dan ketulusannya dalam membantu. Pengorbanan perasaan, materiil dan pikiran dari teman-teman yang kami selalu banggakan tidak akan mungkin dinafikan dan saya lupakan dan semoga Allah SWT juga menilainya demikian. Semoga karya-karya kita, gagasan kita kepada perjuangan ini akan menjadi jembatan menuju titian harapan dan pangkuan sang Maha Pengampun. Terima kasih kepada rekan-rekan terkhusus untuk di Departemen III dan pengurus BEM FMIPA UNM periode 2011-2012 pada umumnya, yang telah banyak membantu untuk memikirkan langkah yang terbaik bagi lembaga selama ini. Ketangguhan dan kesabaran telah kalian buktikan dengan jumlah yang walaupun sedikit dalam membuat sebuah kegiatan, masalah finansial yang seringkali menjadi momok, ternyata kita mampu melewatinya walaupun dengan terkatung. (sembari tertawa dan di ketawai,dengan kening mengerut,dan bibir yang mencibir), saya masih mengingat berbagai macam cobaan yang kita hadapi di akhir-akhir kepengurusan, makan hati, saling cuek mencuekin sampai pada jijik menyentuh sekertariat.
Isu-isu miring terhadap lembaga bagi yang tidak menginginkan lembaga ini tetap eksis adalah sesuatu yang wajar-wajar saja, karena seperti kata Presma, di lembaga ini masih banyak yang berharap banyak, Terimah Kasih kepada para senior dan sesepuh atas nasehat-nasehatnya yang mulia, dan kepada semua pihak yang selama ini banyak membantu Kami. Dan kepada sarebantangku yang selalu ikhlas bersama kami…….. (kau mengajariku petarung,…tapi jiwaku bukan petarung…bagiku dalam kedamaian tidak ada pertarungan).
Kami mengakui ada kekhilafan yang kami lakukan selama kepengurusan, harapan saya semoga kekhilafan itu dapat luluh di hati rekan-rekan sekalian seiring dengan rekatnya tali persaudaraan yang kita bangun selama satu tahun ini, keyakinan saya memberi isyarat bahwa begitu banyak yang tidak berkenan dihati kawan-kawan pengurus dan warga FMIPA (jengkel, benci, dan cuek) namun kenanglah itu sebagai tanda bahwa itu adalah kasih sayang kakak kepada adiknya, Ataupun sebaliknya dan kenanglah itu karna kita pernah seperti sekarang ini, Amien…!
Yakinlah kawan suatu hari nanti manusia
Akan mengalami evolusi paling sempurna
Dimana bendil-bendil peluru akan diganti
Dengan pena-pena kearifan”
Mari kawan satukan suara, satu teriakan:
Hidup mahasiswa
Hidup Rakyat
Wabillahi fi sabilil hak fasta biqul haerat
Assalamu alaikum. Warahmatullahi wabarakatu
HORMATKU DEPARTEMEN ADVOKASI DAN KOMUNIKASI
MENTRI DEPT : ANDI IKMAL
ANGGOTA : - MUH TAUFIQ ADIM
- SUPRIADI
- IDIL AKHRI
- ASHARUDDIN
- FIBRIYANTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar