Selasa, 15 Mei 2012

Fatimah Az-Zahra as, Figur Perempuan Sejati

Kamis, 2012 April 05 11:13

Kesedihan luar biasa meliput Madinah. Gang-gang kota itu benar-benar senyap diliputi kesedihan. Putri kesayangan Rasulullah Saw pada hari itu meninggal dunia. Imam Ali as, suami Sayidah Fatimah az-Zahra as, tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa. Hanya Allah Swt yang mengetahui apa yang terlintas dalam benak Imam Ali as saat istrinya yang juga putri kesayangan Rasululah Saw meninggal dunia.

Saat Rasulullah Saw meninggal dunia, Sayidah Fatimah as benar-benar kehilangan dan sangat sedih. Kondisi pasca wafat Rasulullah Saw, tidaklah ramah. Fenomena inilah yang membuat kesedihan berlarut-larut Sayidah Fatimah az-Zahra as. Tak lama setelah Rasulullah Saw meninggal dunia, Sayidah Fatimah menyusul ayahnya.

Menjelang wafat Sayidah Fatimah as, anak-anak Imam Ali as menangis memandang ibunda tercinta yang akan menemui ajalnya. Sayidah Fatimah setiap kali membuka matanya, ketenangan hati meliputi anak-anaknya. Kali ini, Sayidah Fatimah az-Zahra as membuka mata dan meminta Asma, salah satu pendamping setianya, untuk mengambil air untuk berwudhu. Sayidah Fatimah az-Zahra as berwudhu bersiap-siap menemui kekasih sejatinya, Allah Swt. Sayidah Fatimah memandang anak-anaknya dengan penuh kegelisahan, dan kemudian menyampaikan pesan-pesannya kepada suaminya, Imam Ali as.

Imam Ali as adalah orang yang paling sedih setelah wafatnya Sayidah Fatimah az-Zahra as. Imam Ali as setiap kali melihat Sayidah Fatimah az-Zahra as, lupa akan seluruh kegelisahan dunia. Sayidah Fatimah az-Zahra as benar-benar menjadi sumber kebahagiaan bagi Imam Ali as. Akan tetapi bagi Imam Ali as, kondisi itu akan berubah drastis tanpa kehadiran Sayidah Fatimah az-Zahra as.

Wasiat Az-Zahra as


Sayidah Fatimah Az-Zahra setelah menyampaikan pesannya kepada Imam Ali as, menutup mata dan menemui kekasih sejatinya, Allah Swt. Imam Ali as saat itu benar-benar kehilangan. Di hadapan jenazah suci Sayidah Fatimah az-Zahra as, Imam Ali as merintih.

Setelah itu, Imam Ali as menatap wasiat Sayidah Fatimah az-Zahra as dan membacanya, "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah wasiat putri Rasulullah Saw yang menulis dalam kondisi bersyahadat kepada Allah Swt dan bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah utusan Allah Swt, surga dan neraka itu benar-benar ada, hari kiamat pasti akan tiba. Wahai Ali, aku adalah putri Rasulullah Saw. Allah Swt memerintahkanku untuk menikahimu sehingga aku akan mendampingimu di dunia dan akherat. Kamu adalah orang yang lebih layak dari orang lain. Wahai Ali, mandikanlah aku pada malam hari dan kuburkanlah aku pada malam hari itu juga. Jangan beritahukan penguburanku kepada siapapun. Aku pasrahkan kamu kepada Allah Swt dan aku sampaikan salam kepada anak-anakku hingga hari akhir."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar