Bisaka aku membahagiakanmu???
pertanyaan yang terdiri dari tiga kalimat dan mungkin tidak lebih dari dua puluh huruf. pertanyaan sederhana namun tak sesederhana makna yang terkandung di tiap tiap tekanan kalimatnya.
bisakah??? mungkin untuk mengatakan bisa atau tidak, saya pikir itu tergantung dari apa yang ada di pikiranmu dan apa yang bisa kau rasakan. namun jujur secara materi mungkin aku mengatakan bahwa saat ini itu adalah sesuatu yang tidak aku miliki baik diriku sendiri maupun orang orang yang ada di dekatku.
Tapi selalu aku berpikir apakah kebahagian itu selalu di ukur dan selalu identik dengan yang namanya materi??
kalaupun iya apakah orang yang tidak memiliki materi itu dilarang untuk bahagia??
apakah anak dari seorang buruh kasar tidak pantas unutk memiliki kebahagaian itu??
apakah kebahagian itu adalah sesutau yang haram hukumnya untuk di miliki oleh seorang yang untuk makanpun terkadang susah untuk di carinya???
Kembali aku ragu terhadap apa yang ada dalam pikiranku. kalopun semua yang saya tanyakan di atas adalah benar. kenapa seorang buruh kasar masih bisa tertawa terbahak-bahak dengan keluarga mereka. Kenapa seorang buruh tani masih bisa menikmati indahnya hamparan padi dengan senyum mengembang di bibirnya. dan kalaupun materi adalah tolak ukur kebahagian itu kenapa masih banyak orang yang sudah memiliki segalanya justru teramat sering mengalami pertengkaran dalam menjalin hubungan yang berujung pada perpisahan mereka.
Mungkin aku perlu memperbaiki pemahamanku tentang esensi pemaknaan "bahagia" itu sendiri karna terkadang dua pertanyaan yang saling kontradiktif ini selalu terlintas di kepalaku. karna benar apa yang terkadang di katakan orang tua itu "Bahagia bukan milik dia yang hebat dalam segalanya, namun dia yang mampu temukan hal sederhana dalam hidupnya dan tetap bersyukur".
Saat ini yang bisa aku petik dari kerasnya kehidupan adalah bahwa tidak segala-galanya dalam kehidupan itu harus sempurna, jadi santai saja.
selama kita bersyukur maka semuannya akan membuatmu memiliki kebahagian yang hakiki karna bahagia itu sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar