Senin, 28 Mei 2012

Benci itupun jadi Anugrah

Mungkin dulu tidak pernah ku berharap atau bahkan terlintas di pikiranku, bahwa akan ada suatu masa di mana masa itu kujalani hidupku di penuhi kebencian atas nama dirimu.
tak perlu aku tulis kapan masa itu terjadi karna menurutku yang terpenting adalah bagaimana aku memandangmu dalam kebencian setelah aku berikaan kepadamu,
perhatian yang tak biasanya kepada sosok seorang perempuan
kasih sayang yang mungkin berlebihan dari biasanya
semua waktu atau bahkan dalam doakupun namamu tidak pernah bosan untuk ku ucapkan.

Kebencian pada saat itu seperti sebuah agama baru di pikiranku, dimana pengkhobahnya adalah dirimu dan semua isi khobahnya adalah semua tentang dirimu. berlebihan mungkin sebutan itu tapi itulah sebutan yang pantas untuk kunamai pada masa itu.

Saya tidak paham bagaimana saya melihat diri saya pada saat itu. karna mungkin dirimu bisa menjawab sendiri bagaimana rasanya berada pada situasi yang bukan kehendakmu sendiri. yah itu adalah sesuatu yang tidak adil untuk dirasakan namun itulah jalan yang harus ketempuh. pandangan sinispun tidak bisa kuhindari terhadap sesamamu. bukan karna aku memandang semua sama denganmu tapi rasa tak percaya akan hal ini terjadi(dalam pikiranku mana mungkin mahkluk yang di ciptakan begitu lembut penuh kasih sayang mampu melakukan hal-hal yang tidak pada dirinya sendiri).

Namun Suatu pagi aku Terbangun dalam suatu mimpi panjang yang saya tidak paham apakah itu mimpi buruk yang akan menenggelamkanku lebih jauh lagi ataukah mimpi yang akan menyadarkanku dari keterpurukan ini.??
Dalam mimpiku aku melihat diriku berada di sebuah pantai sedang asyik bermain pasir di tengah gemuruh ombak dan hembusan angin pantai, dan tak lama berselang datang seseorang mengajakku untuk bermain bersama. kumaknai mimpi itu sebagai sesuatu hal yang harus aku jalani, sama halnya bagaimana aku harus menjalani rasa kebencian ini karna seperti dalam mimpiku akan datang seseorang yang menemaniku dalam kebencian ini dan menyadarkanku bahwa itu adalah sesutu yang harus di tinggalkan.

Dalam ketersadaranku, mimpi itupun sekarang menjadi kenyataan dengan datangnya seseorang.
seseroang yang selalu mengingatkanku dan memberiku kekuatan
seseorang yang telah menghadiahkanku kata penuh doa.
doa yang selalu kupancatkan beserta namanya kepada sang pemilik mimpi
"tuhan penuhilah kasih sayang dalam bilik-bilik hati ini agar tidak ada lagi ruang untuk kebencian ini"

Saat ini tak banyak yang bisa kuberikan kepadanya. hanya Ucapan terima kasihku dan menurutku itu tidak akan cukup untuk sebuah doa yang teramat mulia yang di hadiahkannya
Namun aku berjanji untuk mejagamu dalam keEgoisanku


Tidak ada komentar:

Posting Komentar