Jumat, 13 April 2012

Redefinisi peran kampus dan mahasiswa

Mungkin untuk sebagian mahasiswa masih ingat dengan syair lagu yang menyabut kita ketika baru menginjakkan kakinya di dunia kampus;
Dinegri permai ini/ Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah/ Pemuda desa tak kerja.
 Mereka dirampas haknya/ Tergusur dan lapar/ 
Bunda relakan darah juang kami/ Tuk membebaskan rakyat
menelaah lebih dalam lagi makna lagu di atas, mahasiswa di harapkan mampu senergis dengan masyarakat, dalam arti yang kemampuan dan potensi yang di miliki mahasiswa harus di proyeksikan untuk membangun masyarakat kearah yang lebih baik.
Namun yang kita lihat hari ini kampus tidak lagi kondusif untuk menciptakan mahasiswa sesuai proyeksi yang di harapkan. Justru kampus hari ini cendrung melembagakan kepentigan penindas, kampus hanya menjadi kepanjangan tangan dari pemerintah yang hanya bertugas menciptakan robot-robot intelektual yang siap di pekerjakan di perusahaan-perusahaan milik kapitalis barat. kampus di jadikan pabrik-pabrik buruh yang berpenampilan berdasi dan borjuis. Kampus tidak lagi serius memperhatikan peradaban sejati dan kepentingan desa yang jauh dari kata sejahtera.
Lihatlah bagaimana kampus melahirkan manusia-manusia yang melakukan KEMURTAKKAN terhadap disiplin ilmu dan etika yang mereka pelajari. sebutlah misalnya mahasiswa Hukum di ajarkan bagaimana menegakkan keadilan, bukan bagaimana membebaskan koruptor yang terbukti bersalah dengan segala cara.
Ini berarti kita harus berbicara mengenai metode pendidikan yang harus lebih humanis menuju kesejahteraan rakyat yang sejati. bukan lagi metode militeristik dengan memberikan sanksi bagi mahasiswa yang coba berpikir cerdas, kritis mengkoreksi sistem dan setiap dinamika kampus maupun masyarakat. dengan begitu akan lahir serjana-serjana yang tidak melakukan "PEMURTAKKAN '' terhadap disiplin ilmu dan etika yang mereka pelajari selama duduk di bangku kuliah demi apapun.
Lebih jauh lagi bagaimana kita melihat penentu kebijakan(rektorat) memutuskan menjalin kerjasama dengan perseroan terbatas(PT). lihatlah bagaimana misalnya Rektor UNM menjalin kerja sama denga hotel clarion untuk membangun hotel lamacca(mengapa bukan kemudian perpustakan yang di kembangkan untuk menfasilitasi mahasiswa dalam bidang akademi), Ini akan menjadi tanda tanya besar dari komitmen institusi ini sendiri mengingat UNM  tidak mempunyai jurusan perhotelan. adapun konsekunsi dari kerjasama ini ketika perusahaan menuntut tenaga kerja yang instan dan  murah. kampus akan menghasilkan pula sarjan-sarjana yang instan.
Jangan heran ketika muncul kemudian program-program jurusan yang bertujuan agar mahasiswanya bisa lulus secepat mungkin dan adanya pula keegoisan  jurusan agar mahasiswanya menjadi wisudawan tercepat dalam menyelesaikan studinya(bahkan ada mahasiswa yang selesai dalam kurung waktu 3,5 tahun walaupun tugas akhirnya amburadul yang tidak mencerminkan disiplin ilmu dan etika yang begitu mendalam) Yah, tentu saja produk kampus benar-benar instan. Pertanyaanya kemudian adalah Bagaimana kita mempertanggung jawabkan Gelar serjana kita??? bagaimana kita mempertanggung jawabkan subsidi pendidikan yang berarti sebagian di ambil dari uang rakyat.???
Terus di mana kemudian hakikat peran mahasiswa yang mendarah daging sebagai agen of change, social control dan moral force. apakah semua itu sudah di ribut oleh pengambil kebijakan di negeri ini melalui kepanjangan tangan mereka yang ada di kampus.??? Ataukah kita membiarkan diri kita berada dalam penjara intelektual yang melahirkan kita sebagai manusia pragmatis dan apatis.
banyak yang harus di rombak di dunia kampus hari ini, meredefinisi kembali peran mahsiswa itu sendiri, merombak sistim yang jelas jelas melakukan pembodohan secara sistematis. Jadikan lembaga sebagai alat pembebasan bukan penjara intelektual yang mengikat kita dalam bingkai pragmatisme dan apatisme. Mahasiswa harus mengawasi jalannya proses pendidikan ini, ini mutlak, tidak ada alternatif lain dan ini harus di rebut.
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar